Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

NASIB Ridwan Kamil Bagai “Lebai Malang”: DISANA Tak Dapat, DISINI Ditinggal

by
12345

Oleh: Dovan Ali Rizci

Salah satu tokoh cerita rakyat yang dikisahkan kepada saya waktu kecil adalah Lebai Malang. Seorang jenaka yang ambisius namun sering blunder. Hikmah didapat dari cerita bagaimana ia melakukan intrik karena didorong sifat tamaknya, namun rupanya akal-akalan itu berbalik merugikan diri sendiri.

Tersebutlah pak Lebai Malang mendapat undangan kenduri dari dua tempat berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satu diselenggarakan di sebuah rumah di daerah hulu sungai, dan satu lagi di hilir. Selepas sholat Isya’, kenduri akan dimulai, dan diharapkan pak Lebai Malang sudah hadir tepat waktu. Begitu pesan kurir pembawa undangan.

Bimbang di hati Lebai. Bukan soal tak enak hati menolak salah satunya. Tapi Lebai tak ingin tertinggal makan enak di salah satu tempat kenduri. Maunya, dua-dua tempat ia samperi. Orang hulu terkenal dengan masakan ikan bakar yang lezat, sedang orang hilir terkenal dengan rendang dagingnya yang mantap. Amboi… terbit liur Lebai membayangkan masakan di kedua tempat itu.
Lama termenung, Lebai urung mendapat jalan keluar. Waktu sholat Isya’ tiba, tak khusyuk hati Lebai saat berdiri menghadap kiblat dalam barisan jamaah di surau dekat rumah. Namun keputusan harus dibuat. Lebai pun memilih pergi ke rumah di hilir yang dekat daripada memaksakan diri ke hulu yang agak jauh.

Tiba lah Lebai di lokasi. Aktif ia menyalami orang-orang yang telah tiba dahulu. Memilih sebuah tempat, Lebai menyulut rokok sembari mengakrabi orang yang duduk di samping bangkunya. Dipandanginya suasana. Ia merasa pesta masih lama dimulai. Dan muncullah akal bulus si Lebai. Ia mohon pamit sebentar, katanya, dan akan kembali lagi tak lama. Lalu Lebai tergesa berjalan menuju hulu.

Jalan menanjak disusuri. Suara jangkrik seolah menyemangati langkah cepat Lebai memburu waktu kenduri. Dan sampai jua ia di hulu. Namun sayang, didapatinya pesta baru saja usai. Makanan telah habis dibagikan. Orang-orang pulang menjinjing bungkusan yang berisi makanan.
Maka berputar arah lah Lebai. Berlari ia kembali ke hilir. Khawatir dua kali ketinggalan pesta malam itu. Dan benar. Setibanya di hilir, kenduri juga telah usai. Lebai menyaksikan pemandangan orang-orang di kampung itu pulang ke rumah masing-masing menjinjing bungkusan makanan. Lebai tak kebagian.

Sedih lah hati Lebai. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Ah… Lebai. “Sikucapang Sikucapeh”, kata orang Minang. Yang satu hilang, yang satu lepas. Karena ambisinya sendiri.

Dan belakangan ini, cerita Lebai mengapung di memori saya, terasosiasi oleh langkah walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang terancam gagal mendaftar ke KPUD Jawa Barat dalam pilkada Jabar tahun depan. Apa pasal? Ridwan Kamil tak dapat kendaraan yang cukup besar untuk berlaga di lomba mendulang suara lima tahunan demi menentukan Gubernur Jawa Barat Periode 2018-2023.
Memang sudah ada Nasdem yang mendeklarasikan akan mendukung dirinya. Ridwan Kamil pun setuju. Dan ini lah blundernya.

Kang Emil, begitu walikota Bandung ini biasa disapa, sejatinya sudah berada di

“kenduri hilir” kala ia didukung oleh PKS dan Gerindra saat mencalonkan diri di pilkada Bandung, tahun 2013 lalu. Setahun kemudian, PKS dan Gerindra mulai berkoalisi, dan menjadi sekutu yang awet mengimbangi koalisi pemerintah.

Bukan cuma dua partai itu, kang Emil sesungguhnya juga didukung umat Islam. Banyak yang membangga-banggakannya sebagai contoh pemimpin muslim yang sukses. Puncaknya ketika jelang pilkada DKI, kang Emil diharapkan umat maju menghadapi Ahok yang dicitrakan sebagai gubernur hebat. Tapi sayang, setelah mendapat petuah pak Jokowi, kang Emil urung mencalonkan diri. Padahal menurut info orang dalam, Presiden PKS Sohibul Iman sudah meminta Prabowo agar mengusung kang Emil. Peluangnya kalau Emil mau, sangat terbuka untuk bersaing dengan Ahok.

Banyak umat muslim yang kecewa. Tapi mereka masih menaruh harap. Memaklumi keputusan kang Emil. Dan berharap bisa melanjutkan kepemimpinan Aher di Jawa Barat.

Namun harapan umat pun memudar. Sedikit demi sedikit digoyang berita Emil yang PDKT dengan PDIP. Umat masih berpikiran positif. Tapi setelah melihat manisnya penyikapan Emil terhadap peserta aksi lilin untuk Ahok beberapa waktu lalu yang mengotori jalan di Bandung dengan tumpahan lilin, umat pun yakin Emil sudah beranjak dari kenduri di hilir menuju ke kenduri lain.
Emil mulai bertingkah. Ia ikut-ikutan memakai jargon “Bhineka”. Ia pun berfoto bersama Afi – remaja yang menghebohkan dengan tulisan plagiatnya. Umat Islam semakin yakin, Emil bermaksud meraih simpati di kalangan pro Ahok yang selama ini menghujatnya.

Dan keyakinan itu bulat penuh ketika Emil menerima pinangan Nasdem, salah satu partai pendukung penista agama, sebagai calon gubernur Jabar. “Fix, kang Emil tak lagi berpihak pada Islam,” begitu tulis netizen.

Memang, kenduri di hilir belum mulai. Belum ada deklarasi Gerindra dan PKS. Karena waktu pilkada pun masih lama. Tapi sikap Emil yang tak sabaran dan berpaling menuju pesta di hulu, sebagaimana yang terjadi pada Lebai Malang, membuat ia tak mendapat bagian dari kenduri hilir karena ketika pesta dimulai, ia telah beranjak pergi.

Bagaimana dengan pesta di hulu? Emil pun terancam tak kebagian. Pesta sudah dimulai jauh hari. Karena Golkar sudah lama memilih Dedi Mulyadi sebagai jagoannya di pilkada Jabar tahun depan. Mereka kini sedang pendekatan dengan PDIP untuk berkoalisi. Terakhir, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sudah berbicara kepada media memastikan partainya tak akan mengusung Emil.
Euleuh euleuh….. Di sana di tinggal, di sini pun gak dapet dong kang Emil? Kumaha ieu teh?

Disclaimer: waktu pendaftaran masih lama. Tetap masih ada peluang bagi Emil untuk diusung PDIP. Kita masih ingat tersebarnya video kader PDIP bernyanyi “Ahok pasti tumbang”. Kenyataannya Ahok tetap jadi calon PDIP di Pigub DKI kemarin. Karena ada back up yang besar di belakang Ahok. Kita tahu siapa, dan kita tahu apa tawarannya. Begitu pun dengan Emil, mengingat di Jabar ada proyek Meikarta yang perlu diperjuangkan oleh yang berkepentingan, tampaknya ada yang bisa dijual Emil – kalau ia mau – kepada PDIP.***
12345

Emha Ainun Nadjib : Kenapa Dunia Begitu Ketakutan kepada Khilafah

by
12345

Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.

Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah.

Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil. Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah. Ini tahadduts binni’mah, berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan, ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan. Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.

Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk. Sampah-sampah alam menjadi rabuk. Timbunan batu-batu menjadi mutiara. Penjajahan melahirkan kemerdekaan. Kejatuhan menghasilkan kebangkitan. Penderitaan memberi pelajaran tentang kebahagiaan.

Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”, “Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.

Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah: “lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.

Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak menakutkan. Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.

Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. Kenduri yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya. Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.

Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya, menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian. Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai seluruh alam semesta dipeluknya — tanpa saya pernah memprogramnya.

Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya. Meskipun dia kasih aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan. Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma numpang enak sebentar.

Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada fatamorgana.
Emha Ainun Nadjib - caknun.com
[islamedia]
12345

Mengapa Negara-Negara Arab Ingin Tutup Al Jazeera?

by
12345

*Philip Seib

5 Juni, 4 negara Arab, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir menyatakan perang lunak atas Qatar.
Mereka punya dafatar panjang tuntutan, yang memerintahkan Qatar untuk memutuskan hubungan dengan Iran, mengusir pasukan militer Turki dari negaranya dan mengambil langkah-langkah lain yang dibutuhkan untuk mengurangi pengaruh regional Qatar.

Mereka juga menuntut Qatar untuk menutup Al Jazeera, jaringan media yang dibiayai pemerintah Qatar yang selama bertahun-tahun bersikap kritis terhadap pelbagai rejim Arab. Sejauh ini, pemerintah Qatar menolak tekanan untuk menutup jaringan berita ini.

Saya telah mempelajari dan menulis tentang Al Jazeera sejak awal berdirinya, kadang dengan keprihatinan dan kadang dengan pujian.

Buku saya pada 2008, “The Aljazeera Effect” mengeksplorasi pentingnya TV satelit regional di dunia Arab dan sekitarnya.

Meskipun sikap politik Al Jazeera tetap kontroversial, saya percaya upaya menutup jaringan ini akan memperlemah eksistensi pers bebas -khususnya di kawasan yang dimana demokrasi masih langka.

Ketika Al Jazeera diluncurkan pada 1996, media ini mengguncang lanskap media Arab.

Paling penting ketika ada cerita besar di dunia Arab, semacam intifadha kedua, yakni perlawanan bangsa Palestina atas pendudukan Israel, pemirsa Arab tidak lagi harus berpaling ke media Barat untuk mendapatkan analisis tentang apa yang terjadi.

Sebaliknya, mereka melihat para reporter Arab yang meliput berita dengan perspektif Arab. Al Jazeera berbahasa Inggris, yang didirikan pada 2006, membanggakan diri dalam peliputan berita dan perspektif yang lebih Selatan ketimbang kantor berita lainnya. Pada saat ini, berita TV yang dikendalikan pemerintah menjadi standarnya. Mereka memuat berita dengan standar produksi yang rendah. Tiba-tiba, ada saluran yang menawarkan peliputan berita yang relatif tidak ada sensor atas politik kawasan seperti halnya saluran berita barat seperti BBC dan CNN.

Lebih luas lagi, saluran ini menjadi kontroversial karena peliputannya atas perang Amerika di Afghanistan dan Irak. Pemerintah George Bush menganggap peliputan media bersifat provokatif karena mengungkap kematian warga sipil dalam jumlah besar dalam konflik-konflik tersebut. Pemerintah AS menuduh Al Jazeera memicu perlawanan terhadap AS di kawasan tersebut.

Namun, pendekatan pan Arabik dan bebas juga menjadi sumber kemarahan para penguasa Timur Tengah yang lebih suka mengendalikan berita yang sampai kepada rakyatnya. Al Jazeera melaporkan secara kritis tentang pemerintah, khususnya mereka yang bermusuhan terhadap Qatar. Program talk show mereka mendebatkan tema-tema seperti agama dan perempuan sedemikian rupa yang merefleksikan kebebasan berpendapat di dunia Arab.

Dua dekade kemudian, sejarah tersebut tetap releban. Namun, tetap ada batasan bagi jurnalisme Al Jazeera. Meskipun, Al Jazeera banyak mempertanyakan klas penguasa di banyak negara Arab, Al Jazeera tidak meliput Qatar dengan derajat yang sama. Alih-alih, saluran ini dilihat sebagai bagian de facto alat kebijakan luar negeri Qatar.

Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab secara khusus marah dengan Al Jazeera dan pemiliknya, Qatar sejak pergolakan Arab Spring 2011. Mereka memandang Al Jazeera simpatik terhadap para pemrotes dan menganggap jaringan ini mengobarkan api pemberontakan yang mengancam kekuasaan monarki mereka.

Al Jazeera juga meliput positif Ikhwanul Muslimin, yang membuat presiden Mesir Abdel Fatah al Sisi yang merancang kudeta presiden Muhammad Mursi marah. Setelah kudeta, Al Jazeera tetap melaporkan secara kritis negara-negara Arab.

Ada benarnya memang bahwa Al Jazeera Arab pro Islamis dalam pemberitaannya. Musuh Qatar mengatakan bahwa peliputan berita Al Jazeera tidak hanya mendukung Ikhwanul Muslimin, namun juga kelompok-kelompok yang tergabung dengan Al Qaeda di Suriah dan Yaman.

Qatar bersikap tegas bahwa tuntutan Arab Saudi dan sekutunya adalah pelanggaran kedaulatan. Bahkan sekalipun Qatar berkompromi atas tuntutan mereka, namun tidak mungkin negara itu akan menutup Al Jazeera. Jaringan ini adalah salah satu prestasi besar Qatar, media yang dapat menganggapkan negara kecil menjadi kekuatan global selama dua dekade.

Pesaingnya utamanya datang dari Al Arabiya, yang merefleksikan pandangan pemiliknya Saudi dan mungkin akan menjadi kantor berita Arab yang dominan seandainya Al Jazeera tidak ada. Ada sumber berita penting lainnya seperti Sky News Arab yang dimiliki keluarga kerajaan UEA, dan disisi lain spektrum ideologis, Al Manar yang menjadi corong Hizbullah Syiah Lebanon. Al Jazeera bukanlah media monopoli di kawasan ini, jauh dari dugaan seperti itu.

Kompetisi ini telah memotong bagian pasar Al Jazeera berikut pengaruhnya. Namun, Al Jazeer adalah sasaran bagi musuh-musuh Qatar karena saluran ini telah menjadi media mengangkat pengaruh Qatar di mata dunia. Disamping itu, selain Al Jazeera Arab, ada Al Jazeera Inggris dan Balkan. Al Jazeera memproduksi sejumlah program dokumenter dan laporan khusus.

Al Jazeera tentu jauh dari sempurna, namun bagi mereka yang menghendaki dunia Arab yang lebih demokratis, jaringan ini telah menjadi pionirnya dan menyerukan kelemahan stempel otokratik dalam diskusi rakyat. Seperti dibelahan dunia lainnya, masyarakat Arab sangat menikmati perdebatan dan pelbagai pandangan berbeda.

Timur Tengah telah memiliki banyak masalah, namun mereka tidak dapat mundur kebelakang dengan pembatasan atas kebebasan media.





 Dosen Universitas Southern California, Annenberg School for Communication and Journalism
12345

Karena Hary Tanoe Bukan Habib Rizieq

by
12345

Akhirnya takluk. Kurang lebih demikian kesimpulan publik ketika mendengar informasi Hary Tanoesoedibjo mendukung Jokowi. Ketua Umum Partai Perindo itu akan mendeklarasikan dukungannya kepada presiden petahana tersebut pada akhir tahun 2017 untuk maju dalam Pilpres 2019. Berbagai pihak lalu mengaitkannya dengan status tersangka yang membelit Hary Tanoe.

Pada Juni lalu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto memastikan bahwa CEO MNC Group Hary Tanoe telah ditetapkan sebagai tersangka.Ia diduga melakukan ancaman melalui media elektronik kepada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.

"SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) diterbitkan (dengan Hary Tanoe) sebagai tersangka," ujar Rikwanto di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (23/6/2017).

Hary Tanoe  diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) mengenai ancaman melalui media elektronik. Dia dianggap mengirim SMS berbada ancaman kepada seorang jaksa.

"Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan."
Namun Hary Tanoe membantah telah mengancam.







"SMS ini saya buat sedemikian rupa untuk menegaskan saya ke politik untuk membuat Indonesia lebih baik, tidak ada maksud mengancam," ujar Hary Tanoe.

Sebelum kasus ini mengemuka, Hary Tanoe berseberangan dengan pemerintah. Media yang dimilikinya bersikap kritis kepada penguasa. Dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, Hary Tanoe secara terang-benderang berada di kubu Anies-Sandi. Tak heran jika publik lalu mengaitkan balik badannya Hary Tanoe dengan status tersebut. Hary Tanoe pun akhirnya dianggap tidak tahan banting dan mencari jalan aman untuk menyelamatkan kerajaan bisnis dan karir politiknya.
 
Kasus ini membuat saya teringat dengan Habib Rizieq. Aksinya menggalang jutaan umat Islam menuntut keadilan atas kasus Ahok berujung pada upaya pembunuhan dan kriminalisasi. Bahkan jauh sebelum Hary Tanoe menjadi tersangka, Imam Besar Fron Pembela Islam (FPI) itu sudah berstatus serupa pula. Dugaannya kejam: chat mesum dengan seorang wanita bernama Firza Husein.

Tapi Habib Rizieq tegar laksana batu karang. Dia pun tetap berjuang melawan Penguasa nun jauh disana, ditengah ancaman dan status tersangka yang membelitnya. Padahal, bisa saja Habib Rizieq melakukan hal sama dengan Hary Tanoe yakni balik badan untuk tidak memperkarakan Ahok, mendukung pemerintah agar hidup dirinya dan keluarganya aman.

Jika akhirnya Hary Tanoe mengambil jalan berbeda, tak patut kita menyalahkannya. Karena Hary Tanoe bukanlah Habib Rizieq.

Erwyn Kurniawan
12345