12345
Gerakan Perlawanan Islami Hamas memperingatkan bahaya berlanjutnya “percobaan senjata” Israel di Jalur Gaza.
Menanggapi serangan udara Israel malam kemarin ke Jalur Gaza, juru bicara resmi Hamas, Fawzi Barhoum menyatakan, jangan sampai wilayah Gaza menjadi lahan percobaan senjata penjajah Israel.
Barhoum menandaskan, Israel sengaja menarget serangan ke pos-pos pejuang perlawanan di Jalur Gaza. Serangan ini berdampak bahaya dan Israel harus menanggung akibatnya.
Malam kemarin Selasa (8/8), tiga orang warga Palestina terluka setelah pesawat-pesawat tempur penjajah Zionis melancarkan serangan ke sejumlah lokasi perlawanan Palestina di Jalur Gaza.
Direktur Gawat Darurat di Gaza, Aiman Sahbani, mengatakan telah tiba tiga orang korban di rumah sakit asy-Syifa, salah satunya seorang pemuda berusia 26 tahun mengalami luka parah, terkena luka di kepalanya. Dua korban lainnya mengalmi luka ringan.
Sahbani menjelaskan, luka yang dialami pemuda tersebut cukup parah dan korban kehilangan kesadaran. Tim medis memasukkan korban ke dalam ruang ICU untuk menanganinya dengan cepat. (at/pip)
https://melayu.palinfo.com/5461
12345
Showing posts with label Alam Islami. Show all posts
Showing posts with label Alam Islami. Show all posts
by Unknown
August 08, 2017
12345
Malam ini Ahad (6/8/17), saya menyertai ust Felix Siauw menghadiri ma'iyah Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Krapyak Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Kami datang kurang lebih ber sepuluh.
Jauh-jauh dari Jakarta, ustadz Felix Siauw sengaja meluangkan waktu untuk menghadiri ma'iyah Cak Nun tersebut.
Bagi saya pribadi, menghadiri ma'iyah Cak Nun bukan hal baru. Sejak awal tahun 2000an saya sering menghadiri ma'iyah bulanan beliau di TK Alhamdulillah Kasihan Bantul Yogyakarta.
Namun kehadiran saya malam ini menjadi sangat spesial karena menyertai ustadz Felix yang di baliknya terderet serangkaian kisah yang penting.
Kita tau, beberapa kajian ustadz Felix di Semarang & Solo sempat ditolak oleh Banser hingga urung dilaksanakan. Kemudian di masjid Al Firdaus Yogyakarta berhasil dilaksanakan dengan support dari saudara-saudara Kokam, FJI, MM, dan laskar-laskar lain, termasuk kesepakatan dengan Banser.
Malam ini mobil kami memasuki area ma'iyah caknun yang dikawal mungkin ratusan saudara Banser dan dihadiri ribuan saudara nahdiyin. Kami tak bisa mendekati panggung karena begitu padatnya jamaah Cak Nun. Kemudian kami duduk di suatu sudut menyimak episode demi episode ma'iyah Cak Nun.
Sekitar pukul 01.00 (7/8/17) jamaah putri di depan mulai memudar satu persatu hingga kami bisa maju sedikit demi sedikit mendekati panggung.
Menjelang penghujung acara, melalui pesan singkat via ponsel, Cak Nun yang mengetahui bahwa ust Felix berada di tengah-tengah jamaahnya, beliau menawarkan pada ustdz Felix untuk naik ke panggung. Namun dengan rendah hati ustadz Felix menyatakan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, namun beliau menyatakan bahwa datang untuk menyimak dan belajar, sehingga tidak selayaknya naik ke panggung. Subhanallah, saya merasakan ketawadhu'an dan keikhlasan beliau berdua dalam moment ini.
Di penghujung acara, pasca shalawat dan doa, Cak Nun di depan publik memaparkan yang intinya kurang lebih demikian;
"Saya ini ingin menjadi perekat bagi semua pihak. Bertabayun, Berdiskusi, Tukar Pikiran, dan malam ini, kita kedatangan tamu jauh dari Jakarta, ustadz Felix Siauw, yang saat ini ada di tengah-tengah kita entah di sebelah mana"
Sontak semua jamaah kaget tak menyangka, hingga perhatian jamaah tertuju pada ustadz Felix yang berdiri di tengah keriuhan jamaah. Sebagian menyalami dan meminta selfie.
Cak Nun melanjutkan;
"Saya banyak tidak sependapat dengan pemikiran dia (ustadz Felix Siauw) dan dia juga banyak tidak sependapat dengan saya. Setiap orang memang tidak harus sependapat tetapi kebersamaan dan diskusi perlu terus dibangun"
Kemudian Cak Nun dan seluruh tokoh yang di panggung bersiap untuk bersalaman dengan jamaah. Di antara yang berada di panggung adalah Cak Nun dan Kapolda DIY. Puluhan Banser berbaris menjadi pagar betis pengaman.
Jamaah berbaris antri untuk bersalaman dengan Cak Nun. Ustadz Felix Siauw dan rombongan termasuk dalam antrian jamaah itu.
Setelah bersalaman ustadz Felix berbaur kembali dengan jamaah. Permintaan foto bersama dan selfie tak henti-henti.
Tak terasa air mata ini menetes. Berada di tengah-tengah saudara Nahdiyin dan Banser. Saya merasa seperti bertemu saudara tua yang lama tak berjumpa, setelah kami saling tak bertegur sapa beberapa lama.
Saya mendapatkan pelajaran dari beliau berdua, Cak Nun dan ustadz Felix, tentang keikhlasan hati dalam dakwah, membersamai umat, tanpa saling dendam, tanpa saling curiga, meski dalam beberapa hal belum bisa satu kata.
Semoga Allah segera menyatukan hati seluruh muslimin yang hampir saja tercerai berai.
Yogyakarta, 7 Agustus 2017
Oleh Doni Riw
[islamedia] 12345
Malam ini Ahad (6/8/17), saya menyertai ust Felix Siauw menghadiri ma'iyah Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Krapyak Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Kami datang kurang lebih ber sepuluh.
Jauh-jauh dari Jakarta, ustadz Felix Siauw sengaja meluangkan waktu untuk menghadiri ma'iyah Cak Nun tersebut.
Bagi saya pribadi, menghadiri ma'iyah Cak Nun bukan hal baru. Sejak awal tahun 2000an saya sering menghadiri ma'iyah bulanan beliau di TK Alhamdulillah Kasihan Bantul Yogyakarta.
Namun kehadiran saya malam ini menjadi sangat spesial karena menyertai ustadz Felix yang di baliknya terderet serangkaian kisah yang penting.
Kita tau, beberapa kajian ustadz Felix di Semarang & Solo sempat ditolak oleh Banser hingga urung dilaksanakan. Kemudian di masjid Al Firdaus Yogyakarta berhasil dilaksanakan dengan support dari saudara-saudara Kokam, FJI, MM, dan laskar-laskar lain, termasuk kesepakatan dengan Banser.
Malam ini mobil kami memasuki area ma'iyah caknun yang dikawal mungkin ratusan saudara Banser dan dihadiri ribuan saudara nahdiyin. Kami tak bisa mendekati panggung karena begitu padatnya jamaah Cak Nun. Kemudian kami duduk di suatu sudut menyimak episode demi episode ma'iyah Cak Nun.
Sekitar pukul 01.00 (7/8/17) jamaah putri di depan mulai memudar satu persatu hingga kami bisa maju sedikit demi sedikit mendekati panggung.
Menjelang penghujung acara, melalui pesan singkat via ponsel, Cak Nun yang mengetahui bahwa ust Felix berada di tengah-tengah jamaahnya, beliau menawarkan pada ustdz Felix untuk naik ke panggung. Namun dengan rendah hati ustadz Felix menyatakan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, namun beliau menyatakan bahwa datang untuk menyimak dan belajar, sehingga tidak selayaknya naik ke panggung. Subhanallah, saya merasakan ketawadhu'an dan keikhlasan beliau berdua dalam moment ini.
Di penghujung acara, pasca shalawat dan doa, Cak Nun di depan publik memaparkan yang intinya kurang lebih demikian;
"Saya ini ingin menjadi perekat bagi semua pihak. Bertabayun, Berdiskusi, Tukar Pikiran, dan malam ini, kita kedatangan tamu jauh dari Jakarta, ustadz Felix Siauw, yang saat ini ada di tengah-tengah kita entah di sebelah mana"
Sontak semua jamaah kaget tak menyangka, hingga perhatian jamaah tertuju pada ustadz Felix yang berdiri di tengah keriuhan jamaah. Sebagian menyalami dan meminta selfie.
Cak Nun melanjutkan;
"Saya banyak tidak sependapat dengan pemikiran dia (ustadz Felix Siauw) dan dia juga banyak tidak sependapat dengan saya. Setiap orang memang tidak harus sependapat tetapi kebersamaan dan diskusi perlu terus dibangun"
Kemudian Cak Nun dan seluruh tokoh yang di panggung bersiap untuk bersalaman dengan jamaah. Di antara yang berada di panggung adalah Cak Nun dan Kapolda DIY. Puluhan Banser berbaris menjadi pagar betis pengaman.
Jamaah berbaris antri untuk bersalaman dengan Cak Nun. Ustadz Felix Siauw dan rombongan termasuk dalam antrian jamaah itu.
Setelah bersalaman ustadz Felix berbaur kembali dengan jamaah. Permintaan foto bersama dan selfie tak henti-henti.
Tak terasa air mata ini menetes. Berada di tengah-tengah saudara Nahdiyin dan Banser. Saya merasa seperti bertemu saudara tua yang lama tak berjumpa, setelah kami saling tak bertegur sapa beberapa lama.
Saya mendapatkan pelajaran dari beliau berdua, Cak Nun dan ustadz Felix, tentang keikhlasan hati dalam dakwah, membersamai umat, tanpa saling dendam, tanpa saling curiga, meski dalam beberapa hal belum bisa satu kata.
Semoga Allah segera menyatukan hati seluruh muslimin yang hampir saja tercerai berai.
Yogyakarta, 7 Agustus 2017
Oleh Doni Riw
[islamedia] 12345
by Unknown
August 03, 2017
12345
Sanaa- Uni Emirat Arab dikabarkan mengelola sejumlah penjara-penjara rahasia di Yaman yang digunakan untuk menahan orang-orang Ikhwanul Muslimin. Hal itu diungkap oleh surat kabar Prancis yaitu Le Monde.
Hasil investigasi majalah tersebut menunjukan bahwa UEA telah mengelola 18 penjara rahasia di Yaman. Sementara itu, Amerika Serikat disebutkan turut mengawasi proses interogasi terhadap para tahanan.
UEA selama ini menyatakan bahwa keberadaan mereka di Yaman untuk melawan kelompok pemberontak Syiah Hutsi. Namun menurut Le Monde, keberadaan penjara itu diperuntukan untuk menahan kelompok-kelompok dari Partai Reformasi di Taiz yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin.
Perlu dicatat bahwa media baru-baru ini mengungkapkan, penjara rahasia yang dijalankan oleh UAE di Yaman diduga telah menampung ratusan tahanan. Dalam kegiatannya, penjara-penjara rahasia tersebut diduga kuat telah melakukan pelanggaran HAM terhadap para tahanan.
Sumber: Arabi21/kiblat 12345
Sanaa- Uni Emirat Arab dikabarkan mengelola sejumlah penjara-penjara rahasia di Yaman yang digunakan untuk menahan orang-orang Ikhwanul Muslimin. Hal itu diungkap oleh surat kabar Prancis yaitu Le Monde.
Hasil investigasi majalah tersebut menunjukan bahwa UEA telah mengelola 18 penjara rahasia di Yaman. Sementara itu, Amerika Serikat disebutkan turut mengawasi proses interogasi terhadap para tahanan.
UEA selama ini menyatakan bahwa keberadaan mereka di Yaman untuk melawan kelompok pemberontak Syiah Hutsi. Namun menurut Le Monde, keberadaan penjara itu diperuntukan untuk menahan kelompok-kelompok dari Partai Reformasi di Taiz yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin.
Perlu dicatat bahwa media baru-baru ini mengungkapkan, penjara rahasia yang dijalankan oleh UAE di Yaman diduga telah menampung ratusan tahanan. Dalam kegiatannya, penjara-penjara rahasia tersebut diduga kuat telah melakukan pelanggaran HAM terhadap para tahanan.
Sumber: Arabi21/kiblat 12345
by Unknown
August 03, 2017
12345
Unggahan foto di akun Facebook milik kelompok anti-imigran asal Norwegia, Fedrelandet viktigst (Fatherland first) menjadi bahan olokan di dunia maya.
Sebabnya adalah mereka mengunggah gambar deretan kursi di dalam bus kota dan dianggap sebagai sekumpulan muslimah mengenakan jilbab panjang (burka).
Dilansir The Guardian, Rabu (2/8/2017), setelah foto itu diunggah ke laman Facebook kelompok itu, ramai komentar bermunculan.
Anggota kelompok itu menulis komentar terkesan konyol menganggap kursi-kursi penumpang dianggap sebagai muslimah berjilbab itu membawa bom atau senjata. Sejumlah celotehan bernada serupa sahut menyahut di kolom komentar.
“Itu terlihat menyeramkan,” tulis seorang anggota Fatherland first.
“Harus dilarang. Kamu enggak bisa tahu apa yang mereka sembunyikan di balik (jilbab)nya. Bisa jadi teroris,” tulis anggota Fatherland first lainnya.
“Usir mereka dari sini,” sambung anggota lainnya.
Jurnalis Norwegia, Johan Slattavik, mengatakan unggahan itu menarik untuk dianalisa tentang bagaimana melihat pendapat orang-orang setempat yang berpikiran sempit.
Ketua Pusat Antirasis Norwegia, Rune Berglund Steen, mengatakan fenomena itu memperlihatkan bagaimana orang-orang hanya mau melihat dari satu sudut pandang, dan menganggap muslimah sebagai ancaman.
Kalangan faksi minoritas koalisi antara kaum konservatif dan Partai Perubahan Norwegia kini sedang mengusulkan rancangan aturan membatasi muslimah.
Mereka bakal melarang muslimah mengenakan jilbab dan cadar. Mereka ingin menyusul Prancis, Belanda, Belgia, Bulgaria, dan Negara Bagian Bavaria di Jerman sudah menerapkan mengharamkan penggunaan jilbab bercadar. Alasannya tidak masuk akal lantaran dianggap menyulitkan dalam berkomunikasi.
sumber : batamnews
12345
Unggahan foto di akun Facebook milik kelompok anti-imigran asal Norwegia, Fedrelandet viktigst (Fatherland first) menjadi bahan olokan di dunia maya.
Sebabnya adalah mereka mengunggah gambar deretan kursi di dalam bus kota dan dianggap sebagai sekumpulan muslimah mengenakan jilbab panjang (burka).
Dilansir The Guardian, Rabu (2/8/2017), setelah foto itu diunggah ke laman Facebook kelompok itu, ramai komentar bermunculan.
Anggota kelompok itu menulis komentar terkesan konyol menganggap kursi-kursi penumpang dianggap sebagai muslimah berjilbab itu membawa bom atau senjata. Sejumlah celotehan bernada serupa sahut menyahut di kolom komentar.
“Itu terlihat menyeramkan,” tulis seorang anggota Fatherland first.
“Harus dilarang. Kamu enggak bisa tahu apa yang mereka sembunyikan di balik (jilbab)nya. Bisa jadi teroris,” tulis anggota Fatherland first lainnya.
“Usir mereka dari sini,” sambung anggota lainnya.
Jurnalis Norwegia, Johan Slattavik, mengatakan unggahan itu menarik untuk dianalisa tentang bagaimana melihat pendapat orang-orang setempat yang berpikiran sempit.
Ketua Pusat Antirasis Norwegia, Rune Berglund Steen, mengatakan fenomena itu memperlihatkan bagaimana orang-orang hanya mau melihat dari satu sudut pandang, dan menganggap muslimah sebagai ancaman.
Kalangan faksi minoritas koalisi antara kaum konservatif dan Partai Perubahan Norwegia kini sedang mengusulkan rancangan aturan membatasi muslimah.
Mereka bakal melarang muslimah mengenakan jilbab dan cadar. Mereka ingin menyusul Prancis, Belanda, Belgia, Bulgaria, dan Negara Bagian Bavaria di Jerman sudah menerapkan mengharamkan penggunaan jilbab bercadar. Alasannya tidak masuk akal lantaran dianggap menyulitkan dalam berkomunikasi.
sumber : batamnews
12345
Subscribe to:
Posts (Atom)



